Baginya, pendidikan anak adalah investasi masa depan, sedangkan haji adalah investasi akhirat. Keduanya sama-sama penting, dan keduanya harus diperjuangkan. Kini, ketiga anaknya telah tumbuh dewasa. Sebagian sudah bekerja dan membantu orang tua.
Mendekati hari keberangkatan, Sucipto juga mempersiapkan kondisi fisik. Setiap pagi, ia rutin berjalan kaki untuk melatih stamina. Ia juga telah menjalani vaksinasi dan mengikuti manasik haji bersama calon jamaah lain.
Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tak surut. Baginya, perjalanan ke Tanah Suci bukan hanya soal fisik, melainkan kesiapan hati.
Di sela-sela aktivitasnya menjaga parkiran, ia kini lebih banyak berzikir. Saat malam bertugas menjaga keamanan, ia menyempatkan membaca doa-doa yang kelak akan ia panjatkan di depan Ka’bah.
Ia ingin membawa doa untuk keluarga, anak-anak, tetangga, rekan kerja, dan siapa pun yang selama ini mendukung perjuangannya.
Selain bersemangat dan bersyukur, Sucipto juga mengaku senang serta bersemangat untuk menjalankan Rukun Islam kelima itu.
Kisah Sucipto menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan semata perkara kemampuan finansial dalam arti besar, melainkan juga tentang ketekunan, disiplin, dan keyakinan yang dijaga bertahun-tahun.
Di tengah pandangan bahwa biaya haji semakin tinggi dan perjalanan spiritual itu terasa jauh bagi masyarakat kecil, Sucipto justru membuktikan bahwa mimpi besar dapat ditempuh dari profesi yang sederhana. [Ant]


















