MATASEMARANG.COM – Stadion Jatidiri selalu punya ikatan emosional tersendiri dengan para legiun asing yang pernah merumput di sana.
Bagi Panser Biru dan Snex, seorang pemain asing tidak hanya dinilai dari seberapa besar nominal kontraknya, melainkan seberapa dalam ia meresapi determinasi khas Laskar Mahesa Jenar: spartan, ngeyel, dan penuh kebanggaan membela lambang Tugu Muda di dada.
Sepanjang perjalanan sejarah klub, ada legiun asing yang datang dan langsung menjadi pahlawan pujaan, tetapi ada pula yang diingat karena ekspektasi melambung tinggi yang berakhir unik dalam ingatan kolektif masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya yang mendukung PSIS.
Berikut adalah 5 bomber asing PSIS yang paling ikonik dan melekat kuat di hati para pendukungnya:
1. Julio Lopez – Sihir Mematikan Sang Striker Chile (16 Gol)

Julio Lopez bukan sekadar penyerang, melainkan antologi kejayaan lini depan PSIS di era 2000-an.
Datang pada musim 2003, J-Lo langsung menyihir publik Semarang lewat kombinasi teknik olah bola mumpuni, positioning cerdik, serta insting membunuh di dalam kotak penalti.
16 gol dari 25 penampilan di musim perdananya menjadi bukti betapa mematikannya sang bomber.
Kehadirannya di Stadion Jatidiri memberi warna tersendiri lewat selebrasi khas dan koleksi gol-gol spektakuler. Bagi suporter, J-Lo adalah cetak biru penyerang ideal sosok pahlawan klasik yang membuktikan bahwa nama besar berbanding lurus dengan pembuktian di atas lapangan.
2. Emanuel De Porras – Romantisme Era Emas 2006 (23 Gol)

Nama Emanuel De Porras melegenda berkat kontribusi besarnya membawa PSIS melenggang hingga babak final Liga Indonesia 2006.
Striker asal Argentina ini menawan hati para suporter lewat kecepatan lari, determinasi tanpa lelah, serta keberanian saat berduel dengan bek lawan.
Selama membela Mahesa Jenar, De Porras sukses membukukan total 23 gol dari 30 laga. Ketajamannya yang konsisten membuat namanya selalu dijadikan tolok ukur kesuksesan bagi setiap penyerang asing baru yang mendarat di Kota Semarang.
3. Bruno Silva – Chemistry Mendalam hingga Hafal Lagu Jawa (26 Gol)

Di era Liga 1 modern, Bruno Silva menjadi figur ikonik pasca-keberhasilan PSIS kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada 2018.
Striker berkepala plontos asal Brasil ini sangat dicintai bukan hanya karena daya ledak, eksekusi bola mati, dan torehan 26 gol serta 14 assist dari 59 laga bersama PSIS, melainkan karena chemistry mendalam yang ia bangun dengan Panser Biru dan Snex.
Setiap kali membobol gawang lawan, selebrasi emosional Bruno yang berlari mendekati tribune suporter selalu memicu gelombang euforia. Ia membuktikan diri sebagai simbol kebangkitan PSIS di kompetisi modern.
Di luar lapangan, Bruno Silva kerap kali bercanda dengan sahabatnya sesama striker PSIS, yaitu Hari Nur Yulianto hingga bertandang ke kediaman pribadi Hari Nur.
Kedatangan Bruno Silva ke Kendal disambut oleh para tetangga Hari Nur dengan menyanyikan lagu Dalan Liyane karya seniman Semarang Hendra Kumbara. Rupanya Bruno juga fasih berbahasa Jawa saat ikut menyanyikan dan lagu tersebut.
4. Carlos Fortes – Predator dengan Rambut Gimbal (18 Gol)

Tidak butuh waktu lama bagi Carlos Fortes untuk mencuri hati masyarakat Semarang. Penyerang nyentrik berambut gimbal asal Portugal ini langsung menjadi idola baru sejak menginjakkan kaki di Semarang.
Dikenal dengan julukan hangat “Cak Sodiq” oleh para suporter, Fortes menghadirkan sihir lewat kemampuan finishing dingin, keahlian eksekusi bola mati, serta sumbangan 18 gol selama berseragam Laskar Mahesa Jenar.
Kehadirannya selalu menjanjikan gemuruh di Stadion Jatidiri. Hubungan emosional yang erat dengan tribun suporter serta rentetan gol indahnya menjadikan Fortes salah satu penyerang asing paling fenomenal di era modern.
Namun karier Carlos Fortes di PSIS tak mulus karena sempat mengalami cedera otot yang cukup lama dideritanya hingga mengharuskannya untuk kembali ke negara asalnya untuk berobat.
5. Chevaughn Walsh – Momen Kapusan Brosur (1 Gol)

Nama Chevaughn Walsh memiliki tempat tersendiri dalam ingatan publik Semarang, meski dengan narasi yang amat unik. Didatangkan pada putaran kedua Liga 1 2021/2022, ekspektasi terhadap Walsh melambung sangat tinggi usai manajemen mencari penyerang tajam.
Catatan rekor golnya yang mentereng di Liga Vietnam membuat suporter membayangkan sosok penyerang jangkung yang haus gol.
Namun, dari 10 laga yang dijalani, Walsh hanya sanggup menyumbang 1 gol. Penampilannya di lapangan justru memunculkan seloroh khas dari masyarakat Semarang sebagai momen “kapusan brosur” (tertipu brosur).
Postur tubuhnya dianggap hampir menyamai Carlos Fortes dan diharapkan memiliki performa serupa. Namun fakta di lapangan tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi pendukung sehingga muncul beragam obrolan jenaka hingga kritik menggelitik.
Meskipun performanya jauh dari harapan, istilah “tertipu brosur” ini justru menjadi pop culture dan bagian dari memori unik sejarah transfer pemain di PSIS Semarang.

















