Akademisi dan Politisi Diskusikan Politik Digital di Undip

Bedah buku ‘Shortcut Teori‑Teori Pilihan dalam Ilmu Politik’ digelar di Ruang Teater Gedung C FISIP Undip
Bedah buku ‘Shortcut Teori‑Teori Pilihan dalam Ilmu Politik’ digelar di Ruang Teater Gedung C FISIP Undip

MATASEMARANG.COM – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro menggelar bedah buku bertajuk “Shortcut Teori‑Teori Pilihan dalam Ilmu Politik” di Ruang Teater Gedung C FISIP Undip pada 22 Mei 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi dalam membedah relevansi teori politik dengan dinamika lapangan.

Salah satu pembahas, Mohammad Saleh Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Jateng, menekankan pentingnya menghubungkan teori politik dengan realitas praktik elektoral.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  ITB, UI, dan Undip Ciptakan Filter Air Hilangkan 90 Persen Bakteri

“Teori itu penting, tetapi akan lebih bermakna jika bisa digunakan untuk membaca perilaku pemilih, strategi kampanye, dan dinamika kekuasaan nyata di lapangan,” ujarnya.

Saleh menjelaskan bahwa keputusan politik tidak selalu rasional seperti teori klasik.

Faktor emosional, kedekatan sosial, hingga framing media turut memengaruhi pilihan masyarakat. Ia menilai fenomena politik kontemporer di era digital menuntut pembaruan pendekatan teoritik.

“Hari ini, pertarungan politik bukan hanya soal program, tetapi juga persepsi, narasi, dan bagaimana realitas dibingkai di ruang publik,” tambahnya.

BACA JUGA  Wakil Ketua DPRD Jateng Ingatkan SPMB SMA/SMK Harus Transparan dan Akuntabel

Ia juga menyoroti perubahan lanskap politik akibat teknologi digital. Menurutnya, media sosial telah mengubah cara kandidat membangun citra dan berinteraksi dengan pemilih.

“Sekarang komunikasi politik terjadi setiap saat di media sosial. Teori politik harus mampu menjelaskan fenomena baru seperti digital campaigning dan microtargeting,” jelasnya.

Bedah buku ini turut menghadirkan penulis buku, Muhammad Adnan yang memaparkan gagasan utama karyanya, serta akademisi FISIP Undip Wijayanto yang mengulas dimensi politik digital.

Pos terkait