MATASEMARANG.COM – Dendam yang terpendam lama menjadi bara bagi MS ketika mendapatkan kesempatan menumpaskannya. Ia tidak sendirian melampiaskan dendam berdarah itu kepada korban tapi dibantu ayahnya.
Sebagai sesama pedagang cilok, remaja 17 tahun itu tidak bisa mendiamkan diri diintimidasi dan dimintai uang terus-menerus oleh P, 33 tahun, yang juga berprofesi sebagai pedagang cilok.
Menurut pengakuan MS kepada polisi, dendam itulah yang mendorong diri dan ayahnya tega melukai P hingga tewas. Peristiwa itu terjadi di rumah kontrakan korban di Desa Pasir Gadung, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.
P, perantau asal Bangkalan, Jawa Timur, kala itu ditemukan tak bernyawa dengan luka-luka di tubuhnya.
Bagi warga sekitar, peristiwa itu menyisakan tanya. Namun polisi perlahan-lahan berhasil menyusun kepingan cerita. Di balik kasus pembunuhan tersebut, tersimpan kisah tentang rasa sakit hati yang disebut telah berulang kali dirasakan pelaku.
Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Cikupa, Ipda Syaiful Rusdiansyah, mengungkapkan bahwa motif utama pembunuhan berakar dari dendam. Pelaku berinisial MS, yang juga berjualan cilok, mengaku kerap mengalami intimidasi dan dimintai uang oleh korban.
Berkeluh kepada Ayahnya
Perasaan tertekan itu rupanya tidak dipendam sendiri. Sebelum kejadian, remaja tersebut menceritakan keluhannya kepada sang ayah, BT (41). Dari percakapan itulah, sebuah keputusan fatal diduga lahir.
Menurut pengakuan yang diperoleh penyidik, ayah dan anak itu kemudian mendatangi kontrakan korban. Di lokasi itulah korban dihabisi ayah dan anak dengan menggunakan senjata tajam.


















