Manajer Sistem Manajemen HSSE dan Bina Pelanggan Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Semarang Joko Budi Santoso menyebut usia truk bukan satu-satunya indikator utama.
Ia mengatakan pembatasan usia truk harus dibarengi dengan jaminan kelayakan operasional setiap unit yang masuk kawasan terminal.
“Esensinya bukan di pembatasan usia, melainkan bagaimana truk yang masuk area terminal memang layak operasi. Hal ini berimbas pada tingkat keselamatan di area terminal,” kata Joko.
Menurutnya, sejumlah insiden di terminal terjadi akibat truk yang mengalami gangguan teknis (trouble) sehingga mengganggu proses bongkar muat. “TRT (Turn Round Time) truk akan bertambah, dan kinerja terminal otomatis terpengaruh,” imbuhnya.
Dia juga menekankan komitmen terhadap efisiensi energi dan pengurangan emisi sesuai prinsip Environment, Social, and Governance (ESG). Terminal tersebut telah memperoleh pengakuan sebagai Green Port.
“Upaya memperbaiki fasilitas, baik dari sisi trucking maupun alat, sangat mendukung kegiatan Green Port di tempat kami,” ujarnya.
Kepala Bidang Lalu Lintas Jalan Dinas Perhubungan Jawa Tengah Erry Derima Ryanto menyatakan peningkatan kompetensi pengemudi truk merupakan kebutuhan mendesak mengingat tingginya nilai investasi kendaraan dan risiko operasional di lapangan.
Menurutnya, pemerintah telah menyediakan beberapa program pelatihan, termasuk melalui Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal dan program provinsi seperti pemilihan Abdiyasa Teladan.
“Pelatihan kompetensi sudah cukup banyak, tetapi barangkali belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan,” ujarnya.


















