Efnie mengemukakan, orang juga bisa merasa ada sesuatu yang hilang setelah pulang dari Tanah Suci seusai berhaji, menangis ketika mengenang momen ibadah, dan kesulitan menyesuaikan diri dengan dengan rutinitas sehari-hari yang jadi terasa lebih sibuk dan bising.
“Fenomena ini secara psikologis mirip dengan proses re-entry adjustment, yaitu penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna,” kata dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu.
Efnie menyampaikan beberapa faktor yang bisa membuat seseorang lebih rentan mengalami sindrom pasca-haji, seperti tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama menunaikan ibadah atau sedang menghadapi tekanan hidup sebelum berhaji.
Jejak Memori Emosional
Semakin dalam pengalaman spiritual seseorang selama haji atau umrah, biasanya akan semakin kuat pula jejak memori emosional yang terbentuk.
Efnie mengatakan bahwa bagi sebagian orang, Tanah Suci menjadi tempat “beristirahat secara psikologis” dari berbagai beban kehidupan. Ketika pulang dan kembali menghadapi beban itu, kontras emosional menjadi lebih terasa.
Efnie mengemukakan, orang dengan kepribadian yang reflektif dan emosional juga rentan mengalami sindrom pasca-haji.
Orang dengan kepribadian yang demikian suka merenung,memiliki empati tinggi, dan sensitif terhadap pengalaman spiritual, sehingga bisa merasakan kerinduan yang lebih mendalam sepulang dari Tanah Suci.
Menurut Efnie, perubahan besar dalam kehidupan pun bisa membuat orang jadi lebih rentan mengalami sindrom pascahaji.


















