Harga Pangan Melandai, Jawa Tengah Catat Deflasi di Tengah Inflasi Nasional

ilustrasi inflasi (pixabay/Hobbyfotograf08)
ilustrasi inflasi (pixabay/Hobbyfotograf08)

MATASEMARANG.COM – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan performa ekonomi yang stabil pada periode usai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.

Berdasarkan data terbaru, Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) pada April 2026, berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang justru mengalami inflasi sebesar 0,13 persen (mtm).

Penurunan indeks harga ini secara dominan dipicu oleh normalisasi permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan serta koreksi harga emas global.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Bir Pletok, Minuman Niralkohol yang Menghangatkan

Faktor Pendorong Deflasi

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M Noor Nugroho mengungkapkan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar -0,22 persen (mtm).

“Penurunan harga pada komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit terjadi seiring dengan kembalinya pola konsumsi normal masyarakat setelah momentum Idulfitri,” ujar M. Noor Nugroho dalam keterangan resminya, Selasa 5 Mei 2026.

Selain pangan, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga turut menyumbang deflasi sebesar -0,04 persen (mtm).

BACA JUGA  Jelang Iduladha 1446 H, Pemprov Jateng Terjunkan Petugas Pastikan Kesehatan Hewan Kurban

Hal ini didorong oleh penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti tren koreksi harga emas di pasar global.

Tantangan Inflasi: Energi dan Gadget

Meski secara umum mengalami deflasi, terdapat beberapa komoditas yang menahan penurunan harga lebih dalam.

Kenaikan biaya energi, khususnya gas LPG, serta naiknya harga kemasan plastik akibat konflik di Timur Tengah telah memicu inflasi pada sektor restoran (nasi dengan lauk).

Pos terkait