MATASEMARANG.COM – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan performa ekonomi yang stabil pada periode usai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.
Berdasarkan data terbaru, Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) pada April 2026, berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang justru mengalami inflasi sebesar 0,13 persen (mtm).
Penurunan indeks harga ini secara dominan dipicu oleh normalisasi permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan serta koreksi harga emas global.
Faktor Pendorong Deflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M Noor Nugroho mengungkapkan bahwa kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar -0,22 persen (mtm).
“Penurunan harga pada komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit terjadi seiring dengan kembalinya pola konsumsi normal masyarakat setelah momentum Idulfitri,” ujar M. Noor Nugroho dalam keterangan resminya, Selasa 5 Mei 2026.
Selain pangan, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga turut menyumbang deflasi sebesar -0,04 persen (mtm).
Hal ini didorong oleh penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti tren koreksi harga emas di pasar global.
Tantangan Inflasi: Energi dan Gadget
Meski secara umum mengalami deflasi, terdapat beberapa komoditas yang menahan penurunan harga lebih dalam.
Kenaikan biaya energi, khususnya gas LPG, serta naiknya harga kemasan plastik akibat konflik di Timur Tengah telah memicu inflasi pada sektor restoran (nasi dengan lauk).


















