Ini Bahaya Dunia Digital dalam Propaganda Kekerasan Radikal ke Generasi Muda

Ia mengatakan, komunikasi terbuka, pengawasan media sosial, serta penanaman nilai toleransi menjadi garis pertahanan pertama dalam keluarga.

Wakasat Intelkam Polrestabes Semarang Kompol Slamet Purnomo mengatakan adanya tiga pelajar SMP dan SMK di Kota Semarang yang sempat terpapar paham ekstremisme melalui game online.

“Mereka awalnya ditarik masuk ke grup tertentu, lalu mendapat doktrin secara bertahap. Paham ekstremisme sekarang masuk lewat ruang digital seperti game online yang dekat dengan anak-anak,” tutur Slamet.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pra Kongres Perempuan Jadi Tolok Ukur Penyusunan Isu Strategis

Menurutnya, kelompok ekstrem memanfaatkan kondisi psikologis anak yang rentan, terutama mereka yang pernah mengalami kekerasan, memiliki luka emosional, atau menyimpan kebencian terhadap aparat maupun lingkungan sekitar.

“Anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan atau punya rasa marah dan kecewa lebih mudah dipengaruhi. Karena itu pendekatan keluarga sangat penting,” ujarnya.

Slamet mengatakan, pihak kepolisian melakukan pembinaan agar para pelajar tersebut dapat kembali ke lingkungan keluarga dan tidak lagi terpapar paham radikal.

Fenomena itu sekaligus memperlihatkan bagaimana ancaman ekstremisme kini bergerak secara masif di dunia digital. 

BACA JUGA  DP3A Kota Semarang Ingatkan Skala Prioritas Penggunaan Dana Operasional RT Rp25 Juta per Tahun

Ia menjelaskan bahwa propaganda radikal menyebar cepat melalui algoritma media sosial, grup percakapan tertutup, hingga platform digital yang sulit diawasi.

Sementara itu, Sekretaris Yayasan Persadani Semarang sekaligus mantan narapidana terorisme Hadi Masykur, menekankan bahwa keluarga merupakan benteng utama pencegahan ekstremisme.

Pos terkait