“Ancaman ekstremisme itu nyata dan sekarang penyebarannya sangat luas melalui internet. Orang tua, terutama ayah, jangan hanya sibuk mencari nafkah, tapi juga harus dekat dengan anak agar bisa mendeteksi perubahan perilaku sejak dini,” jelasnya.
Hadi mengingatkan, komunikasi yang hangat di rumah menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian atau pengakuan dari kelompok luar yang berpotensi membawa pengaruh negatif.
“Tanamkan nilai agama yang damai, komunikasi yang baik, dan nasionalisme atau cinta tanah air. Anak yang merasa dicintai keluarganya biasanya tidak mudah mencari pengakuan di kelompok lain,” katanya.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat terpapar paham radikal. Menurut Hadi, peran ibu dan keluarganya menjadi faktor penting yang akhirnya membawanya kembali meninggalkan jalan ekstremisme.
“Yang menarik saya kembali justru keluarga. Penerimaan keluarga, lingkungan membuat saya bisa Kembali berbaur menjalani kehidupan seperti biasa,” ungkapnya.
Ia mengatakan keluarga memiliki posisi strategis sebagai “benteng utama” karena menjadi lingkungan pertama pembentukan karakter anak.
“Pendidikan nilai toleransi, pendampingan penggunaan teknologi, hingga literasi digital disebut sebagai langkah penting untuk mencegah paparan radikalisme sejak dini,” pungkas Hadi.

















