“Kita tidak bisa mengklaim diri kembali fitrah jika nurani kita mati melihat dunia yang sedang terluka parah,” ujar Ustadz Nurbini mengingatkan para jamaah.
Sementara itu, Dr. H. AM. Juma’i, SE.MM turut menyuarakan urgensi keadilan di halaman Masjid Al Mujahidin Patriot, Semarang Utara.
Akademikus Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ini menyerukan pentingnya umat Islam menjadi pelopor keadilan sosial di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ibadah ritual wajib berdampak langsung pada kesejahteraan publik.
“Agama hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan yang tidak berkeadilan,” tegas Wakil Ketua PDM Kota Semarang itu dengan lantang.
Memanusiakan Manusia
Di sisi lain, Sekretaris Umum PDM Kota Semarang, Drs. H. Suparno, S.Ag, M.SI, memberikan penekanan khusus di halaman Masjid Assalam Wonodri, Semarang Selatan. Dosen agama Universitas Diponegoro (Undip) ini menitikberatkan khotbahnya pada urgensi pentingnya memanusiakan manusia. Menurutnya, puasa sebulan penuh bertujuan mencetak pribadi yang sangat peka secara sosial.
“Bukti nyata suksesnya ibadah Ramadan adalah kemampuan kita memanusiakan manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari,” tegas Ustadz Suparno.
Kesimpulannya, keempat lokasi ini merepresentasikan gaung serempak dari total 50 titik perayaan Idulfitri Muhammadiyah Semarang tahun ini. Penyelenggaraan serentak tersebut sukses bertransformasi menjadi panggung advokasi sosial yang sangat kuat. Umat Islam harus terus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan universal ini secara konsisten pasca-Ramadan untuk mewujudkan Keadilan Kemanusiaan Lebaran yang sejati. [Ant]


















