Menurutnya, lagu tersebut diciptakan belasan tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ketika bentuk dan nama negara yang hendak diwujudkan belum jelas.
“Pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis. Belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan sudah ada lagu ini,” ujarnya.
Prabowo mengatakan cita-cita para pendiri NU adalah membangkitkan bangsa Indonesia agar dapat berdiri setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Prabowo juga menilai NU selalu hadir dalam berbagai kejadian dan krisis yang dihadapi bangsa Indonesia, termasuk dalam menjaga stabilitas, keamanan, perdamaian, serta menentukan masa depan bangsa.
“Kalau bangsa ini mau bangkit dan mau aman, pemerintah, umara harus selalu dekat dengan Nahdlatul Ulama dan juga Muhammadiyah,” kata Prabowo.
Muktamar Ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut menjadi momentum bagi Nahdlatul Ulama membahas berbagai agenda organisasi dan isu strategis kebangsaan.
Muktamar tersebut juga menjadi forum konsolidasi warga NU untuk merumuskan arah organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan keumatan, kebangsaan, dan perkembangan zaman.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan kehadiran Presiden Prabowo dalam Muktamar ke-35 NU merupakan bentuk penghormatan terhadap peran besar Nahdlatul Ulama yang selama lebih dari satu abad menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.


















