Beri Nilai 8 pada Pelayanan Publik Kota Semarang, Analis: Jangan Puas Jadi Jagoan di Jateng

  • Pengamat sebut pelayanan publik Pemkot Semarang dapat nilai 8 dari skala 1–10
  • Pemkot didorong menjadikan Semarang sebagai pusat kegiatan tingkat nasional hingga internasional

MATASEMARANG.COM – Analis politik cum Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Teguh Yuwono menilai kinerja pelayanan publik Kota Semarang saat ini cukup bagus. Kalau dinilai, kinerja Pemkot Semarang meraih angka 8 dari skala1–10. 

Indikator ini mencakup lima sektor utama yakni pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pelayanan administrasi, hingga jaminan keamanan.

BACA JUGA  Bentuk Nyata Dukungan Paguyuban Camat Terhadap Pengukuhan PAUD sebagai Pilar Generasi Emas 2045

Meski demikian, Teguh menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD Kota Semarang tidak boleh berpuas diri hanya dengan menjadi yang terbaik di tingkat lokal Jawa Tengah.

Bacaan Lainnya

“Kalau pembandingnya cuma kabupaten/kota lain di Jawa Tengah, tentu Semarang sangat mudah mengalahkannya karena statusnya ibu kota provinsi. Tapi itu tidak kompatibel. Harusnya pertarungan kita adalah melawan kota-kota besar nasional dan dunia, seperti Bandung, Surabaya, Jakarta, Makassar, hingga Denpasar,” kata Teguh saat ditemui di kampus Undip, Rabu, 26 Agustus 2026.

BACA JUGA  Jadwal Pemadaman Listrik Semarang Timur dan Barat Hari Ini Senin 10 November 2025

Ia mendorong Wali Kota dan pimpinan DPRD Kota Semarang untuk memiliki visi kemajuan yang dramatis guna menjadikan Semarang sebagai pusat aktivitas (center of activities) di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu kunci utama untuk melompat ke level dunia, menurut Teguh, adalah transformasi total menuju digital governance (tata kelola pemerintahan digital). Dengan jumlah penduduk dewasa yang mencapai lebih dari 1,5 juta jiwa, metode penyerapan aspirasi dan pelayanan birokrasi secara manual sudah tidak relevan lagi.

BACA JUGA  Diangkat Jadi Menteri, Jumhur Bilang Tetap Akan Pimpin Konvoi Hari Buruh pada 1 Mei

“Satu orang saja bisa punya tiga gagasan, berarti ada hampir 5 juta ide yang harus ditampung. Kalau prosedurnya dicek satu-satu dari bawah pakai kertas, habis itu kertasnya basah kena air, ya selesai kita. Itu sudah paradigma zaman Ken Arok dan Ken Dedes,” tegasnya.

Pos terkait