- Pemprov Jateng siap tangani stunting di sejumlah daerah yang masih miliki angka stunting cukup tinggi
- Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang jadi daerah yang sudah mampu turunkan angka stunting dibawah 2 persen
MATASEMARANG.COM – Meski capaian prevalensi stunting di Jawa Tengah secara umum menyentuh angka 9,77 persen, Pemprov Jateng menyoroti masih tajamnya kesenjangan penanganan antardaerah.
Sejumlah kabupaten seperti Wonosobo, Banjarnegara, dan Purbalingga dinilai masih membutuhkan perhatian serta intervensi ekstra.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa wilayah-wilayah dengan prevalensi stuntingtinggi tidak boleh dibiarkan bekerja sendirian. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di tingkat provinsi akan dikerahkan secara terpadu untuk mendampingi daerah-daerah tersebut.
“Ini nanti akan kita intervensi dengan dinas terkait. Nanti akan kita keroyok seluruh daerah untuk belajar dengan Demak dan Semarang,” tegas Luthfi usai Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel Semarang, Selasa, 22 September 2026.
Strategi intervensi yang diusung Pemprov Jateng adalah pendekatan Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) atas keberhasilan Pemkab Demak dan Kabupaten Semarang. Kedua daerah tersebut dinilai sukses menekan angka stunting hingga menyentuh kisaran 2 persen.
Luthfi menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan pada satu instansi kesehatan saja, melainkan membutuhkan penanganan lintas sektor yang mencakup perbaikan sanitasi, edukasi pola asuh, infrastruktur, hingga bantuan sosial ekonomi keluarga.
Guna menunjang gerakan terpadu ini, skema pendanaan non-pemerintah juga terus diperkuat. Hingga saat ini, dukungan kolaborasi dari Baznas dan CSR Bank Jateng untuk penanganan stunting di Jawa Tengah telah mencapai hampir Rp21 miliar.

















