Rupiah Kembali Menjejak di Kurs Rp17.000-an

Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target Rp3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 17,8 persen (yoy).

Belanja pemerintah pusat telah tersalurkan sebanyak Rp1.298,6 triliun atau 41,2 persen dari target Rp3.149,7 triliun.

Pada sisi belanja kementerian/lembaga (K/L, realisasi tercatat sebesar Rp658,9 triliun atau 43,6 persen dari target Rp1.510,5 triliun, dan belanja non-K/L terealisasi Rp639,7 triliun atau 39 persen dari target Rp1.639,2 triliun.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Ini Daftar Pasar Tradisional Semarang yang Akan Direvitalisasi Tahun Depan

Adapun penyaluran transfer ke daerah tercatat sebesar Rp357,4 persen atau 51,6 persen dari target Rp693 triliun.

Dengan kinerja itu, APBN mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sedangkan keseimbangan primer mengalami surplus sebesar Rp85,1 triliun.

“Beberapa bulan terakhir, banyak dana asing yang keluar oleh kekhawatiran defisit bisa melewati 3 persen, malah ada yang memperkirakan 4 persen,” ujar Lukman dikutip Antara.

Sentimen lain berasal dari antisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (22/7).

BACA JUGA  Rupiah Mulai Berotot di Posisi Rp17.900 per Dolar AS

Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75 persen sejak September 2025. Namun, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18 ribu per dolar AS.

Pos terkait