Tapi Kim Jong Un juga bisa menganggapnya sebagai pendorong untuk mempercepat program senjata nuklir Korea Utara guna menangkal serangan seperti dialami Iran.
Tapi, kalaupun Korea Utara terancam, Rusia dan China yang berbatasan dengan Korea Utara, tak mungkin berdiam diri. Mereka tak akan membiarkan musuh menghunus pedang di hadapan muka mereka.
Ketika China melibatkan diri dalam Perang Korea pada 1950-an pun tidak semata karena alasan ideologis, tapi juga karena tak mau membiarkan musuh mengarahkan moncong senjatanya di depan hidung mereka.
China dan Rusia juga sangat tidak nyaman dengan retorika para pemimpin AS mengenai “pergantian rezim” yang berusaha diaplikasikan terhadap Iran.
Padahal, tak ada pergantian rezim secara paksa yang berhasil membuat sebuah negara lebih baik, apalagi tujuan pergantian rezim itu sebenarnya hanyalah melumpuhkan lawan sehingga rezim itu tak lagi menjadi ancaman untuk negara yang menggulingkan rezim itu.
Si pengguling rezim juga tak peduli mereka akan membuat negara yang rezimnya mereka gulingkan, masuk lagi dalam tiranisme baru.
Petualangan AS di Amerika Latin, Asia, dan Timur Tengah di masa lalu adalah bukti-buktinya.
Omong kosong demokrasi di balik pergantian rezim pun akan makin terkuak, apalagi saat bersamaan AS tetap merangkul rezim-rezim otoriter nan tidak demokratis termasuk yang berada di Timur Tengah, hanya karena mereka tidak mengusik kepentingan dan pengaruh AS.
Yang sering terjadi, pergantian rezim secara paksa malah menghasilkan diktator-diktator baru, seperti terjadi di Amerika Latin pada 1950-an sampai 1970-an, mulai Augusto Pinochet terhadap Salvador Allende di Chile pada 1973 sampai Carlos Castillo terhadap Jacobo Arbenz di Guatemala pada 1954.

















