Iran telah menangkap pesan AS dari serangan ke fasilitas-fasilitas nuklirnya. Sebaliknya, Trump telah menangkap pesan Iran di balik serangan tak hentinya ke Israel.
Pemerintah AS yang dikritik Demokrat karena menyerang Iran tanpa otorisasi parlemen, mungkin telah menangkap pesan Iran bahwa setiap serangan ke wilayahnya adalah urusan hidup mati bagi Iran, paling tidak untuk rezim mereka.
Selama puluhan tahun rezim Iran memang menjadi sasaran penggulingan pihak luar, khususnya AS dan Israel.
Iran sendiri tak bisa mengesampingkan skenario penggulingan paksa seperti menimpa Saddam Hussein di Irak, Muammar Gaddafi di Libya, Bashar al Assad di Suriah, dan banyak tempat lain di dunia.
Dalam pikiran para pemimpin Iran, akan sangat berbahaya jika tak membalas serangan AS karena bisa memberi pesan buruk kepada lawan-lawannya, termasuk di dalam negeri, bahwa mereka lemah, tidak sekuat dulu.
Penguasa Iran tak akan membiarkan kesan itu muncul karena sama halnya dengan membuka skenario keruntuhan rezim, seperti Revolusi Islam Iran menumbangkan Shah Iran pada 1979. Shah Iran adalah sekutu AS dan Israel di masa lalu yang tak kalah buruk dari rezim buruk lainnya.
Yang juga harus dikhawatirkan AS adalah terusiknya negara-negara nuklir yang tidak dalam genggaman pengaruh AS.
Di antara yang paling terusik adalah Korea Utara.
Selama puluhan tahun Korea Utara menjadi sasaran pelemahan AS dan sekutu-sekutunya, melalui sanksi dan isolasi internasional yang lama seperti dialami Iran.
Show of force
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bisa menafsirkan “show of force” AS di Iran sebagai pengingat untuk segera kembali ke meja perundingan.

















