MATASEMARANG.COM – Dampak kerusakan akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada medio Februari 2026 lalu ternyata masih menyisakan persoalan pelik bagi sektor agraria di Kabupaten Grobogan.
Hingga memasuki akhir Mei, sejumlah kawasan lahan pertanian warga di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, dilaporkan belum bisa beroperasi normal akibat tertimbun material lumpur pekat pascabencana.
Salah satu petani lokal bernama Sumarsih mencurahkan keluh kesahnya langsung di hadapan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno.
Ia mengungkapkan bahwa lahan persawahan miliknya seluas 1,5 hektare hingga kini mati suri dan sama sekali tidak bisa ditanami.
“Pascabanjir bandang waktu itu, endapan lumpur yang tersisa sangat tebal. Akibatnya, posisi tanah sawah saya sekarang jadi jauh lebih tinggi (elevasinya) dibanding sawah-sawah di sekitarnya. Air irigasi tidak bisa mengalir naik ke sawah saya. Harapan saya, sawah ini bisa segera dikeruk agar kami bisa bertani lagi,” keluh Sumarsih.
Merespons aduan yang menyangkut urat nadi perekonomian warga tersebut, Sumarno bersama jajaran dinas teknis terkait langsung meluncur ke lokasi persawahan milik Sumarsih untuk menginspeksi langsung tingkat keparahan ketebalan sedimentasi lumpur di lapangan.
Sumarno menegaskan bahwa pemulihan lahan pertanian ini masuk ke dalam skala prioritas penanganan pascabencana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah karena menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat sekitar.
“Melihat kondisi riil di lapangan, solusi kedaruratan yang paling masuk akal dan harus segera dieksekusi adalah melakukan pengerukan tanah sedimentasi. Elevasi tanahnya harus diturunkan dan disamakan kembali dengan petak sawah di sebelahnya, sehingga pasokan air irigasi bisa masuk dan menggenangi area yang saat ini tertimbun,” urai Sumarno pada 27 Mei 2026.


















