Mita menjelaskan bahwa pengelolaan 30.800 pelaku usaha mikro yang terdaftar di sistem Si Umi membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pelatihan yang diberikan tidak terbatas pada adaptasi teknologi semata, tetapi juga menyentuh aspek manajerial dasar.
Dinkop UMKM membagi pembinaan ke dalam beberapa tahap, seperti pelatihan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) dan penyusunan laporan keuangan, pendampingan standar mutu produk agar siap bersaing di pasar modern, pelatihan penggunaan marketplace nasional seperti Shopee dan TikTok, yang saat ini telah dimanfaatkan oleh lebih dari 50 persen UMKM binaan hingga kolaborasi dengan media lokal untuk memperluas jangkauan pemasaran produk.
Selain itu, unit pelaksana khusus seperti UPTD PLUT di Gayamsari juga diperkuat untuk memberikan pendampingan intensif bagi ratusan UMKM pilihan, termasuk program inkubasi bisnis yang berhasil membawa produk lokal menembus pasar ekspor di Eropa, Australia, hingga Timur Tengah.
“Melalui integrasi ekosistem dari Hulu ke Hilir ini, kami optimistis potensi ekonomi lokal dapat tergarap maksimal sehingga pelaku UMKM mampu menjadi tumpuan utama roda perekonomian daerah,” tandasnya.


















