- Dinas Perikanan Kota Semarang mengkaji inovasi budi daya lele media buis beton berbasis sistem bioflok
- Metode ini mengadopsi teknologi pengembangan Prof. Gembong yang hemat air dan tidak berbau
- Satu unit buis beton berdiameter 80 cm sanggup menampung hingga 1.000 ekor benih lele
MATASEMARANG.COM – Dinas Perikanan Kota Semarang tengah mengkaji penerapan teknologi budi daya ikan lele menggunakan media buis beton sebagai solusi efisien bagi masyarakat perkotaan (urban farming).
Langkah inovatif ini disiapkan untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan dan sumber air yang kerap menjadi kendala warga kota dalam mengembangkan perikanan darat.
Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang Soenarto menjelaskan bahwa kajian tersebut mengadopsi sistem bioflok hasil rancangan Prof. Gembong Danudiningrat, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pakar senior bidang perikanan dan pertanian organik asal Yogyakarta.
“Kami sedang melakukan kajian budidaya lele dengan buis beton. Harapannya, inovasi ini menjadi solusi nyata bagi warga Kota Semarang untuk berbudidaya lele dengan memanfaatkan lahan terbatas, hemat air, serta tetap ramah lingkungan,” ujar Soenarto pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Melalui metode bioflok ini, masyarakat dapat memelihara lele dengan tingkat kepadatan tebar tinggi meskipun hanya mengandalkan wadah penampungan yang terbatas.
Hemat Air, Bebas Bau, dan Sanggup Menampung 1.000 Ekor Benih
Kunci utama keberhasilan metode buis beton ini terletak pada penggunaan bakteri pengurai untuk mengolah kotoran ikan menjadi bahan ramah lingkungan sehingga ekosistem air tetap terjaga sehat.
Teknologi ini menawarkan sejumlah efisiensi teknis, di antaranya penggunaan air yang hemat karena ketinggian air hanya memerlukan sekitar 50 sentimeter tanpa perlu diganti secara berkala.
Selain itu, media pemeliharaan tidak mengeluarkan bau menyengat sehingga aman ditempatkan di sekitar area permukiman padat penduduk.


















