- BPBD dan BMKG meluruskan kesimpangsiuran informasi terkait abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di wilayah Jawa Tengah
- Hasil pengujian sampel udara (paper test) di berbagai stasiun meteorologi memastikan abu vulkanik tidak jatuh atau mengendap di permukaan tanah Jawa Tengah
- Debu yang menumpuk di kendaraan warga dikonfirmasi sebagai dampak musiman dari kondisi iklim kering akibat 24 kabupaten/kota masuk status Kemarau Awas
MATASEMARANG.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluruskan kesimpangsiuran informasi terkait dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan asesmen ilmiah dan uji lapangan di 35 kabupaten/kota, otoritas memastikan material abu vulkanik dari gunung api di Selat Sunda tersebut tidak mengendap maupun mencapai permukaan tanah wilayah Jawa Tengah.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menegaskan bahwa tumpukan debu yang menempel pada kendaraan warga dalam beberapa hari terakhir merupakan dampak dari kondisi iklim kering musim kemarau, bukan abu vulkanik.
“Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung abu letusan Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat Jawa Tengah. Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data. Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat belum terjadi,” paparnya
Mengenai munculnya spekulasi peta sebaran abu di media sosial, Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo menguraikan fenomena teknis perbedaan pergerakan angin di lapisan atmosfer.
Berdasarkan pemantauan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta citra satelit BMKG Himawari, pergerakan abu mengarah ke timur hanya terjadi di lapisan udara atas.
Sedangkan pada lapisan permukaan bawah (ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut), hembusan angin bertiup konsisten dari timur ke barat sehingga memblokir jatuhnya material vulkanik ke tanah.


















