“Jadi kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik diperkirakan sampai ke daerah-daerah di Jawa Tengah. Tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat,” bebernya.
Guna memvalidasi data penginderaan jauh tersebut, BMKG menggelar pengujian sampel udara (paper test) pada 6 dan 7 September 2026 di lokasi strategis, meliputi Bandara Ahmad Yani Semarang, Stasiun Klimatologi Kertajati Majalengka, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, hingga Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap. Seluruh sampel laboratorium mencatatkan hasil negatif abu vulkanik.
Pada kesempatan sama, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengingatkan masyarakat bahwa fenomena debu tebal di ruang publik dipicu oleh kondisi iklim lokal.
Saat ini, sebanyak 24 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah telah menetapkan status Kemarau Awas.
“Dapat disimpulkan, debu-debu dari kondisi volcanic ash tidak sampai ke Jawa Tengah untuk lapisan permukaan. Mengapa di medsos nampak debu di mobil atau motor? Karena kondisi kita dalam musim kemarau,” terangnya.
Untuk mengantisipasi gangguan pernapasan akibat paparan debu kemarau yang kering, BPBD imbau masyarakat tetap mengenakan masker medis saat beraktivitas di luar ruangan dan mengonsumsi air putih secara cukup sembari memantau pemutakhiran data resmi pemerintah.


















