Lebih dari itu, para siswa diajak berpartisipasi dalam Creative Hackathon—aktivitas kelompok untuk merancang ide kampanye kesehatan digital yang positif dan adaptif untuk disebarkan kembali di sekolah.
“Kegiatan ini memang kami buat untuk memberikan edukasi kepada remaja, tidak hanya mengenai skincare, tetapi juga pentingnya mental health. Akses informasi yang makin luas perlu diimbangi dengan kemampuan remaja untuk menyaring informasi yang mereka terima,” terangnya.
Selain kesehatan jiwa, aspek perawatan fisik juga menjadi sorotan utama melalui sesi “Glow Up or Glow Down: Kenali Kulitmu Sebelum Menyesal”.
Didampingi tim dokter kecantikan Immoderma, para siswa diajarkan untuk bersikap kritis dan tidak asal mengikuti tren kosmetik yang sedang viral di media sosial tanpa memahami jenis kulit sendiri.
Manfaat ganda dari edukasi menyeluruh ini dirasakan langsung oleh Maiya Arzaq, siswi SMA Negeri 3 Semarang.
“Kami mendapatkan pembekalan dan edukasi tentang mental health, serta belajar memilih skincare sesuai dengan kebutuhan kulit, bukan hanya mengikuti produk yang sedang tren,” tutur Maiya.
Kehadiran guru pendamping dalam ajang ini menjadi kunci agar materi yang disampaikan tidak berhenti di ruang seminar. Guru diharapkan menjadi jembatan fasilitator dalam menindaklanjuti kampanye kesehatan di lingkungan sekolah.
Siti Muzaroah, S.Pd., guru dari SMK Negeri 7 Semarang, mengapresiasi tinggi kolaborasi lintas sektor ini yang dinilainya sangat relevan dengan kebutuhan murid zaman sekarang.


















