”Mereka harus membagi prioritas antara kualitas hidup dan memiliki aset,” ujar Hendra.
Sementara dari sisi produk, Leads Property mencatat sekitar 90 persen dari total 41.300 unit yang belum terjual di Jakarta tidak memenuhi kriteria ideal generasi muda. Angka tersebut terdiri atas 11.300 unit dari proyek tertahan dan 30.000 unit dari proyek eksisting.
Unit-unit tersebut dinilai memiliki ukuran terlalu kecil, kualitas penyelesaian bangunan di bawah ekspektasi, serta standar “apartemen terjangkau” versi pengembang yang tidak sejalan dengan harapan konsumen akan hunian yang layak.
Kriteria hunian ideal bagi generasi muda mencakup empat aspek utama, yakni kualitas bangunan yang layak, pengelolaan gedung yang baik, kedekatan dengan transportasi umum, serta harga yang terjangkau.
CMO sekaligus Direktur Arsitektur Masgroup M. Adhiguna Sosiawan menambahkan bahwa Zillenial kini lebih memprioritaskan akses daripada kepemilikan aset.
”Mereka lahir di zaman di mana kalau mau nonton lagu tinggal Spotify, nonton film tinggal Netflix. Kebiasaan menyewa itu sudah menjadi bagian dari cara hidup mereka,” kata Adhiguna.
Meski demikian, Adhiguna menilai minat generasi muda terhadap properti sebetulnya masih ada, asalkan produk yang ditawarkan sesuai kebutuhan dan gaya hidup mereka. Gen Z dan milenial kini lebih mengutamakan fungsi dibanding luas ruang.
”Yang penting pemanfaatan ruangnya itu optimal, layoutnya bagus,” kata Adhiguna.
Hendra pun menyarankan sejumlah langkah bagi pengembang, di antaranya penyesuaian harga jual, peningkatan kualitas penyelesaian bangunan, serta penataan ulang proyek yang tertahan agar sesuai dengan preferensi pasar.


















