“Jalan nordik ini membakar kalori 30 persen lebih banyak. Sangat cepat untuk menurunkan berat badan. Ada anggota kami, Pak Martono, baru latihan 3 bulan sudah berhasil turun 12 kilogram,” bebernya.
Bermanfaat Pula bagi Anak Muda
Tak hanya untuk lansia, Zaenal menegaskan olahraga ini juga sangat bermanfaat bagi anak muda, terutama para pencinta alam atau pendaki gunung.
Atas dasar manfaat tersebut, Zaenal berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih.
“Harapannya bisa masuk ke program rumah sakit karena sangat bermanfaat untuk pemulihan, dan syukur-syukur bisa diajarkan di sekolah-sekolah agar lebih tersosialisasi,” ujarnya.
Bukan Olahraga Eksklusif
ementara itu, Ketua Penyelenggara HUT ke-3 KJNI Kota Semarang Sudewi Metianing Suranto, mengungkapkan bahwa perayaan HUT ke-3 ini sengaja digelar untuk memperluas jangkauan dan mengenalkan olahraga ini ke lapisan masyarakat yang lebih luas.
Ia tidak menampik bahwa jalan nordik kerap kali dianggap sebagai olahraga eksklusif atau mahal karena memerlukan modal untuk membeli sepasang tongkat khusus. Namun, pihak komunitas memiliki cara unik untuk menyiasatinya.
“Memang kelihatannya eksklusif karena harus modal tongkat. Tapi untuk menarik anggota, kami yang senang ini ‘mengalah’ dulu. Saya beli 10 stick tunai, lalu silakan anggota baru mengangsur 3 sampai 5 kali. Alhamdulillah, sekarang anggota di Kota Semarang sudah hampir 400 orang,” ungkap Sudewi.
Sudewi menyebut saat ini KJNI Kota Semarang menaungi lima kelompok latihan yakni kelompok Harmoni di Masjid Agung, Kelompok Merbau di Banyumanik, Kelompok Plamongan di Pedurungan, kelompok Serasi di Ungaran, dan Kelompok Abinaya di Sultan Agung.


















