Meski bermaksud mengembalikan nilai-nilai kearifan ulama, penerapan metode AHWA tak lepas dari riak dan kegaduhan internal.
Sayangnya, dinamika tersebut dinilai belum sepenuhnya menjadi bahan muhasabah kolektif bagi seluruh elemen jamiyah.
Puncaknya, ketegangan antarstruktur yang secara halus kerap disebut sebagai “dinamika internal” PBNU sempat memanas, hingga memicu turun tangannya para mustasyar dan masyayikh (sesepuh) untuk melakukan ishlah (perdamaian). Namun, upaya rekonsiliasi tersebut dirasakan masih diterima dengan setengah hati oleh sebagian pihak, yang berpotensi memunculkan residu tindakan kurang terpuji menjelang perhelatan Muktamar ke-35.
Harapan kami kiranya seluruh warga nahdliyin dapat merefleksikan kembali hakikat permusyawaratan dalam tubuh organisasi.
Menjelang Muktamar Ke-35 yang akan datang, doa dan harapan dipanjatkan agar perhelatan tertinggi jamiyah ini senantiasa dinaungi keberkahan para muassis (pendiri) dan masyayikh NU, serta mampu mengembalikan spirit musyawarah yang teduh dan bermartabat.
*Penulis adalah Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah


















