“MTQ ini mempertemukan banyak orang dari berbagai daerah dengan Kota Semarang. Kami ingin pertemuan itu juga mempertemukan mereka dengan produk-produk lokal kita. Jadi yang dibawa pulang dari Kota Semarang bukan hanya kenangan tentang MTQ, tetapi juga cerita tentang kuliner, karya, dan kreativitas warganya,” kata dia.
Kesempatan memperkenalkan kuliner lokal juga berjalan beriringan dengan pengembangan Zona KHAS (Kuliner Halal, Aman dan Sehat). Saat ini Kota Semarang telah memiliki sembilan lokasi Zona KHAS, sementara kawasan kuliner Simpang Lima sedang dalam proses pembentukan Zona KHAS untuk mendukung MTQ Nasional XXXI.
Program tersebut mencakup perlindungan konsumen, peningkatan higiene dan sanitasi, percepatan sertifikasi halal UMKM, serta pengembangan gaya hidup sehat dan destinasi wisata ramah muslim.
Selain kegiatan ekonomi kreatif, rangkaian side event juga menghadirkan kegiatan seni dan budaya. Pameran Kaligrafi Internasional akan menampilkan 75 karya seniman dari 50 negara serta 125 karya seniman dari 16 provinsi di Indonesia.
Festival Rebana Nasional dan ajang kreasi anak-anak turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Para kafilah juga berkesempatan menjelajahi sejumlah ikon sejarah dan budaya Semarang melalui agenda City Tour pada 15–19 September 2026. Destinasi yang dikunjungi antara lain Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Museum Kota Lama, hingga Alun-Alun Kauman.
Nuansa khas Semarang juga hadir melalui Mini Dugderan, Kirab Dugder, dan Festival Kota Lama. Beragam kegiatan tersebut memberi kesempatan bagi para tamu untuk mengenal lebih dekat tradisi, kesenian, serta suasana Kota Semarang selama pelaksanaan MTQ Nasional.


















