Seniman Semarang Kumpulkan Rp60 Juta untuk Korban Bencana Sumatra

Seniman Kabupaten Semarang tampil dalam aksi “Satu Hati Satu Aksi” untuk menggalang dana bagi korban bencana (foto: LKK Semarang)
Seniman Kabupaten Semarang tampil dalam aksi “Satu Hati Satu Aksi” untuk menggalang dana bagi korban bencana (foto: LKK Semarang)

MATASEMARANG.COM – Duka besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada 25 November 2025 menggugah solidaritas seniman dan pegiat budaya di Kabupaten Semarang.

Melalui gerakan “Satu Hati Satu Aksi”, mereka menggalang donasi untuk meringankan beban korban banjir dan longsor yang menelan lebih dari seribu jiwa serta merusak ribuan rumah dan fasilitas umum.

Aksi solidaritas ini dimulai dari Pasar Projo Ambarawa pertengahan Desember, lalu berlanjut ke sejumlah titik strategis seperti Banyubiru, Pasar Hewan Ambarawa, Karangjati, Klepu, Semurup, Bandungan, Congol, dan Bancak.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Jaga Ekosistem, Bupati Semarang Cek Kualitas Air Sungai Kali Gung

Dukungan juga datang dari lembaga pendidikan, seperti TK Bangun Putra Tlogo Tuntang dan SDN Kupang 02 Ambarawa, serta keluarga besar Trah Musman-Markini Tuntang.

Berbagai kelompok seni turut ambil bagian, mulai dari Kuda Lumping, Gedruk, tarian tradisional, hingga sinden Semarang, menjadikan aksi kemanusiaan ini bukan sekadar penggalangan dana, tetapi juga perayaan solidaritas budaya.

Ketua Lembaga Kesenian Kabupaten Semarang Romo Pujiyanto menegaskan bahwa aksi ini lahir dari semangat kebersamaan.

“Kami memilih untuk lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Semua logistik kegiatan kami tanggung sendiri, sehingga dana yang terkumpul murni untuk saudara-saudara kita di Sumatra,” ujarnya.

BACA JUGA  Wagub Jateng Gus Yasin Dorong Pendidikan Karakter Hadapi Fenomena Kreak

Ia menambahkan, dukungan luar biasa datang dari ketua-ketua LKK kecamatan, pegiat seni, hingga paguyuban sound system.

“Solidaritas ini menunjukkan bahwa seni bukan hanya hiburan, tapi juga kekuatan sosial yang bisa menggerakkan kepedulian,” kata Romo Pujiyanto.

Pos terkait