- 25 mahasiswa asing dari 13 negara belajar memahat di Galeri Jepara Wood Carving
- Acara merupakan bagian dari program Summer Course 2026 Buja Sejana 2 Sekolah Pascasarjana Unnes
- Kegiatan bertujuan melestarikan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sekaligus ajang promosi budaya internasional
MATASEMARANG.COM – Sebanyak 25 mahasiswa internasional dari 13 negara mendapatkan pengalaman unik memegang pahat dan mempelajari seni ukir kayu khas Jepara secara langsung di Galeri Jepara Wood Carving, Kabupaten Jepara, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kegiatan praktik budaya ini merupakan bagian dari rangkaian program Summer Course 2026 Buja Sejana 2 yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Di dalam galeri, para mahasiswa asing dibimbing oleh 23 instruktur lokal untuk mengenal pola serta tahapan teknik dasar ukiran kayu khas Jawa Tengah.
Sayed Rahman Hamid, mahasiswa asal Afganistan yang menempuh studi di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, mengaku terkesan karena baru pertama kali memahat kayu ukir.
“Sangat menarik, baru pertama kali ini,” ujar Sayed Rahman Hamid pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Aisha Jumma Mussa, mahasiswa asal Tanzania. Menurutnya, seni memahat tidak bisa dikuasai secara instan karena membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Tidak bisa dipelajari dalam satu hari karena membutuhkan teknik dan kelenturan tangan,” ungkap Aisha Jumma Mussa saat mempraktikkan ukiran kayu.
Sementara itu, mahasiswa asal Uganda, Huzairu Kanamwangi berencana membawa karya ukir nama buatan tangannya kembali ke negara asal sebagai kenang-kenangan dari Indonesia.
“Saya akan membawa ini ke negara saya dan menunjukkan bahwa saya yang membuatnya. Dari Jepara, Indonesia,” kata Huzairu Kanamwangi.
Salah satu instruktur local Rumini menjelaskan bahwa para peserta diajarkan empat tahapan dasar memahat ukiran Jepara, yaitu ngrancapi, nglemahi, ngekoli, hingga nyoreti.


















