“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya keterampilan mengukir. Kami juga mengenalkan budaya Jepara yang terkenal sebagai kota ukir,” jelas Rumini.
Koordinator kegiatan dari Unnes, Wati Istanti, menyebutkan bahwa program pembelajaran gabungan (blended learning) selama tiga bulan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori secara daring, melainkan juga mengalami praktik kebudayaan secara luring.
“Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung,” kata Wati Istanti.
Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto menyambut positif interaksi langsung antara pengukir lokal dan mahasiswa asing sebagai sarana penguatan regenerasi serta diplomasi budaya.
Seni Ukir Jepara yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015 ini diharapkan semakin dikenal di kancah global melalui peran para mahasiswa asing tersebut.
“Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara,” tutup Hadi Priyanto.


















