MATASEMARANG.COM – Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara kembali digelar dan menyedot perhatian ribuan warga serta wisatawan.
Kobaran api yang menyala di tengah gelap malam menjadi penanda dimulainya ritual budaya turun-temurun yang dipercaya telah berlangsung sejak abad ke-16.
Diketahui, Perang Obor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020 lalu.
Perang Obor merupakan tradisi sedekah bumi dan ritual tolak bala yang digelar setiap Senin Pahing malam Selasa Pon setelah masa panen.
Tradisi ini berkaitan dengan legenda Ki Gemblong dan Kyai Babadan, yang diyakini masyarakat sebagai simbol penolak bala dan keselamatan desa.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin mengatakan bahwa Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya, melainkan tradisi yang menyimpan pesan moral sekaligus potensi besar sebagai wisata budaya unggulan.
“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu diingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar dijalankan,” ujarnya, 25 Mei 2026.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi meski sempat diguyur hujan. Ribuan pengunjung tetap bertahan menyaksikan jalannya tradisi.
Jatus, salah seorang pengunjung dari Batealit, mengaku sengaja datang bersama keluarga.
“Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” katanya.
Bagi warga Tegalsambi, Perang Obor adalah warisan leluhur yang sarat nilai kebersamaan dan doa keselamatan.
Petruk, warga setempat, mengaku telah mengikuti tradisi ini sejak tahun 2000 dan kini diteruskan oleh anaknya. “Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.


















