MATASEMARANG.COM – Di tengah derasnya arus hiburan digital, pagelaran wayang kulit Malam Jumat Kliwon ke-337 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang kembali membuktikan bahwa budaya Jawa tetap hidup dan mampu menyatukan lintas generasi.
Acara yang digelar Teater Lingkar Semarang bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang serta Pepadi Kota Semarang ini menghadirkan dalang muda Ki MPP Bayu Aji dengan lakon “Karmayoga Drupada”.
Kisah tersebut sarat pesan moral tentang ketulusan, kesetiaan, tanggung jawab, dan kehormatan diri.
Suasana TBRS tampak semarak dengan kehadiran pecinta wayang, seniman, budayawan, mahasiswa dari USM dan Unnes, hingga pelawak senior Sumar Bagyo yang dikenal sebagai Gareng Semarang.
Kehadiran anak-anak muda dalam jumlah besar menjadi bukti bahwa wayang masih relevan sebagai hiburan sekaligus sarana pendidikan karakter.
“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi sarana silaturahmi dan edukasi. Semoga tradisi ini selalu ada sampai kapan pun,” ujar Ki MPP Bayu Aji, Jumat 12 Juni 2026.
Ketua Teater Lingkar Semarang Sindhunata Gesit menjelaskan konsistensi adalah kunci menjaga budaya.
“Terima kasih kepada semua pihak yang selama ini mendukung dan mendoakan. Teater Lingkar masih dapat mempersembahkan pagelaran ini sebagai upaya meneruskan tradisi yang diwariskan oleh ayah kami, almarhum Maston Lingkar,” katanya.
Kehadiran Bayu Aji, putra maestro pedalangan almarhum Ki Anom Suroto, menjadi bentuk komitmen menghadirkan dalang terbaik.
Kepala UPTD TBRS Semarang Tulus Haris juga memberikan apresiasi atas keberlangsungan tradisi ini.


















