Sementara itu, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,41 persen, meningkat dibanding pada 2024 (4,26 persen).
Di sektor industri, furniture menjadi andalan Jepara, dengan 892 perusahaan furniture yang nilai investasinya lebih dari 1,17 triliun dan mampu menyerap 8.259 tenaga kerja.
Furnitur kayu menjadi komoditas ekspor terbesar dari Jepara. Tahun 2025 nilainya mencapai 197 juta Dolar AS atau setara 3,29 triliun dengan jangkauan 114 negara tujuan ekspor.
Nilai 197 juta Dolar AS setara 34,5 persen dari total ekspor Jepara yang mencapai 570,85 juta Dolar AS. Artinya, setiap 3 Dolar AS nilai ekspor Jepara, lebih dari 1 dolarnya berasal dari furniture kayu.
“Saya telah menyiapkan program unggulan di sektor ini, mulai Festival Ukir Internasional, Pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, hingga UMKM naik kelas, serta Kartu Mebel Jepara yang sudah kita serahkan sebanyak 850 dari target 1500 Kartu Mebel Jepara,” terang Mas Wiwit.
Menurut Mas Wiwit, kemajuan industri mebel tidak hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi dari kesejahteraan para pekerja dan pengukir yang berada di belakang setiap produk yang dihasilkan harus kita perhatikan.
Selain itu, harus berani menjaga kualitas karya Jepara, agar tetap menjadi pilihan di pasar internasional.
Pemerintah Kabupaten Jepara akan terus hadir melalui kebijakan, fasilitasi, pelatihan, dan pembinaan. Kartu Mebel Jepara ditempatkan sebagai basis data pekerja mebel dan juga pengukir yang lebih akurat.
Sehingga pemerintah dapat menyusun program pembinaan yang tepat sasaran, meningkatkan kompetensi pekerja, serta membuka akses dukungan pendidikan bagi putra-putri pekerja mebel dan juga pengukir, melalui berbagai program, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), Program Indonesia Pintar (PIP), serta Jaminan kesehatan.


















