MATASEMARANG.COM – Masyarakat Dusun Ngemplik, Desa Banjarejo, terus menjaga keberlanjutan tradisi lokal nasi ambeng sebagai bagian integral dari kegiatan rutin Selapanan dan Khotmil Qur’an.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun pada Rabu, 29 Juli 2026 ini bukan sekadar jamuan makan bersama, melainkan simbol sedekah untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Nasi ambeng disajikan dalam nampan besar berisi nasi dengan aneka lauk pauk khas seperti sambal goreng, ikan asin, telur rebus, hingga bihun.
Ketua Karang Taruna Dusun Ngemplik Lagimin menjelaskan bahwa nilai spiritual di balik kebiasaan warga membawa sajian nasi tersebut.
“Tradisi membawa nasi ambeng bukan sekadar kebiasaan, tetapi menjadi bentuk sedekah yang mempererat kebersamaan warga dan menjaga kegiatan keagamaan tetap hidup,” ungkap Lagimin.
Rangkaian Khotmil Qur’an tersebut turut diisi dengan pembacaan Hizib Ratib Al-Atos untuk memohon keberkahan bagi seluruh masyarakat Desa Banjarejo dan sekitarnya.
Mahasiswa KKN MIT ke-22 Posko 87 UIN Walisongo Semarang Ninis mengaku mendapat pengalaman berharga dapat terlibat langsung dalam tradisi keagamaan masyarakat lokal.
“Tradisi Selapanan tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta memperkuat nilai kepedulian melalui sedekah,” jelas Ninis.
Acara penuh khidmat tersebut dihadiri oleh Gus Nabil, putra pengasuh Pondok Pesantren Giri Kusumo Mranggen Demak (KH. Munif Muhammad Zuhri), Ketua Takmir Masjid Aminuddin, serta para tokoh agama setempat.

















