“Ini pas dan cocok. Nanti di akhir tahun kita akan push terus, supaya di tahun 2027 akan ada banyak sekali proses temu bisnis. Tentu ini akan didahului dengan coaching clinic, pitching, dan berbagai pelatihan. Kita siap menjadi kota pariwisata,” tegasnya.
Menanggapi keberagaman potensi UMKM, Agustina menyoroti pentingnya pemahaman mendalam terkait karakter masing-masing pelaku usaha. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak bisa diseragamkan seperti adanya pasar lokal dan pasar internasional.
“Kalau kuliner makanan basah ini misalnya akan lebih banyak mempebanyak gerai di dalam negeri, seperti para UMKM ini. Tapi ada juga UMKM yang bertekad go internasional, nah kami menyediakan jalur pendampingan khusus yang telah terkoneksi dengan berbagai lembaga terkait serta mengantongi dukungan dari Pemerintah Provinsi hingga jaringan internasional,” terangnya.
Selain orientasi pasar, Pemkot juga berfokus menyelesaikan kendala sosial-ekonomi harian yang sering dialami pelaku UMKM melalui semangat gotong royong, agar mereka bisa fokus mengembangkan bisnisnya.
Pemkot Semarang saat ini tengah melakukan pendataan dan pembersihan data untuk membangun kembali kepercayaan para pelaku UMKM. Fokus utama saat ini adalah memprioritaskan mereka yang benar-benar siap dan berkomitmen untuk maju.
Layanan pendampingan dapat diakses baik melalui portal Dinas Perindustrian maupun aplikasi Waras Ekonomi. Pemkot siap memfasilitasi berbagai kebutuhan mendasar, antara lain fasilitasi legalitas usaha seperti PIRT dan Sertifikat Halal, pelatihan pengembangan kapasitas bisnis, dan bantuan teknis sederhana, seperti foto produk profesional untuk keperluan pemasaran digital.

















