Dulu Juara, Kini Terlempar ke Kasta Tiga Liga Inggris

Leicester City
Pelatih Leicester City Claudio Ranieri menciumi trofi juara Liga Uama Inggris yang merupakan pertama diraih oleh Liecester City yang diserahkan ke klub ini usai laga melawan Everton Minggu dini hari WIB (8/5/2016). Ant/Reuters

MATASEMARANG.COM – Satu dasawarsa lalu, sepak bola dunia menyaksikan sejarah besar yang ditorehkan Leicester City. Klub yang tak diperhitungkan itu menjuarai kasta tertinggi Liga Inggris.

Di situlah pada musim 2015/2016 sebuah “dongeng” menjadi nyata ketika klub Leicester City mengunci gelar juara Liga Inggris untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Trofi perdana Si Rubah, julukan Leicester, terasa sangat spesial karena mereka bukanlah tim unggulan selayaknya Manchester City, Chelsea, Manchester United, Liverpool, atau Arsenal di musim tersebut.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Halte Trans Semarang Tenggelam Imbas Peninggian Jalan, Manajemen: Akan Direnovasi Pekan Depan

Namun, nyatanya Leicester dengan probabilitas kemungkinan juara di bawah satu persen mampu mewujudkan keajaiban dengan mengangkat trofi paling bergengsi di tanah Britania Raya.

Sosok sang pelatih, Claudio Ranieri, menjadi kunci di balik keberhasilan Si Rubah mengangkat trofi Liga Inggris dan membawanya pulang ke kota Leicester.

Pelatih asal Italia tersebut piawai meramu keseimbangan tim, memadukan pilar-pilar berpengalaman seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, Danny Simpson, Marc Albrighton, Shinji Okazaki, hingga Jamie Vardy, dengan talenta-talenta penuh potensi seperti N’Golo Kanté, Riyad Mahrez, dan Ben Chilwell.

BACA JUGA  SEA Games: Indonesia Anteng di Posisi Ketiga

Leicester mengunci gelar Liga Inggris dengan catatan impresif: 23 kemenangan, 12 hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan. Si Rubah juga menorehkan 68 gol dan kebobolan 36 gol, dengan persentase kemenangan mencapai 60,53 persen.

Capaian tersebut cukup untuk membungkam Arsenal asuhan Arsène Wenger, yang harus puas finis di peringkat kedua dengan raihan 71 poin.

Pos terkait