Dulu Juara, Kini Terlempar ke Kasta Tiga Liga Inggris

Leicester City
Pelatih Leicester City Claudio Ranieri menciumi trofi juara Liga Uama Inggris yang merupakan pertama diraih oleh Liecester City yang diserahkan ke klub ini usai laga melawan Everton Minggu dini hari WIB (8/5/2016). Ant/Reuters

Dongeng Si Rubah terasa seperti anomali dalam sepak bola modern, sebuah kisah yang sulit terulang di tengah lanskap kompetisi yang kian didominasi kekuatan modal besar dalam belanja pemain.

Sayangnya, Leicester tak memiliki sumber daya finansial sebesar tim-tim “Big Six”, sehingga konsistensi untuk terus bersaing di papan atas Liga Inggris menjadi tantangan yang tak ringan.

Tim yang bermarkas di King Power Stadium, Leicester itu kini justru berkutat di papan bawah kompetisi divisi kedua Inggris yakni Championships.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Pembunuh Anggota TNI Ditangkap di Wonosobo, Warga Minta Pelaku Dihukum Mati

Kondisi 180 derajat dialami oleh Leicester yang pada satu dekade silam merupakan pemilik takhta tertinggi sepak bola di Inggris dengan gelar juara Liga Inggris.

Luka Leicester

King Power Stadium, Leicester, Senin pagi WIB, mendadak sunyi ketika Leicester City dipastikan terdegradasi ke divisi ketiga sepak bola Inggris, EFL League One.

Si Rubah hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan tamunya, Hull City. Hasil tersebut secara matematis memastikan degradasi Leicester, karena mereka tak lagi mampu mengejar perolehan poin Blackburn Rovers yang berada di peringkat ke-21.

BACA JUGA  Polisi Tangkap Pria Bersenjata Api Mengaku "Ring 1 Istana"

Leicester kini tertahan di posisi ke-23 EFL Championship dengan koleksi 42 poin, terpaut tujuh angka dari Blackburn yang berada tepat di atas zona degradasi.

Dengan hanya dua laga tersisa, André Ayew dan rekan-rekan sudah tak memiliki peluang untuk keluar dari zona merah, dan dipastikan menyusul Sheffield Wednesday yang lebih dulu terdegradasi ke kasta ketiga.

Ini menjadi kali pertama Leicester turun ke divisi ketiga sejak musim 2008–2009.

Pos terkait