Forum Ulama Nahdliyin Kritisi Kepemimpinan PBNU

La qowiyyan walaa amiinan

Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga K.H. Anis Maftuhin menyampaikan kritik terhadap kepemimpinan PBNU saat ini dan mengingatkan peserta muktamar agar mempertimbangkan aspek kepercayaan dan kemaslahatan dalam menentukan pilihan.

“Pemimpin sekarang la qowiyyan walaa amiinan (tidak kuat dan tidak dapat dipercaya). Jangan dipilih kembali,” ujar Anis.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Keputusan Rapat Syuriyah–Mustasyar PBNU Final dan Mengikat

Anis juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi menjelang muktamar. Ia menyebut adanya tudingan mengenai penculikan dan karantina peserta yang menurut dia perlu mendapat perhatian.

“Ada tiga L dari PBNU hari ini: luntur keulamaannya, luntur tradisi tabayun, luntur ri’ayatul ummah. PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat,” katanya.

Menurut Anis, kegiatan keagamaan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput tetap berjalan. Namun, ia menilai dinamika menjelang muktamar memperlihatkan ketegangan dan pengondisian yang perlu menjadi perhatian.

BACA JUGA  Mengembalikan Spirit Musyawarah-Mufakat di Muktamar NU

Ia juga mengkritik arah kaderisasi NU yang menurutnya berpotensi lebih berorientasi pada penguatan kekuasaan birokrasi dan jabatan.

“Di bawah ada paradoks. Kaderisasi sekarang untuk menguatkan kekuasaan atau jabatan di birokrasi. Karena itu tugas bersama menitipkan aspirasi kepada muktamirin untuk memberi maslahat bagi Nahdliyin. Ikhtilaf itu harus menjadi rahmat dan perang gagasan,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Algebra Bogor K.H. Khariri Makmun mengutip sabda Nabi Muhammad SAW mengenai pentingnya menyampaikan kebenaran dan mendorong NU lebih memperhatikan kondisi masyarakat.

Pos terkait