“NU bersama masyarakat, terutama di hari-hari sulit sekarang ini. Teman-teman di bawah berharap NU fokus melihat kondisi di masyarakat, kemudian didialogkan pada pemerintah. Zaman Gus Dur, K.H. Hasyim Muzadi, hingga Kiai Said melakukan itu,” katanya.
Khariri juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan dan dinamika internal PBNU. Ia menilai terdapat sejumlah kontroversi yang menjadi perhatian masyarakat selama periode kepengurusan saat ini.
Menurut Khariri, hal itu antara lain berkaitan dengan pembekuan sejumlah program kaderisasi serta belum jelasnya status sejumlah surat keputusan menjelang pelaksanaan muktamar.
Ia juga menyampaikan kritik terkait isu kerja sama dengan pihak asing yang menurutnya perlu menjadi perhatian organisasi. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan dalam forum halaqah.
Kritik lainnya disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran K.H. Mustain Syafi’i yang menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan amaliah NU sekaligus memperkuat fungsi kontrol terhadap pengurus organisasi.
“Kalau nahi ‘anil mungkar, itu mungkarnya belum ada. Jadi sekarang dalilnya yang pas taghyir ‘anil mungkar. Persoalannya, jika tikus-tikus menguasai lumbung, ayo beli racun yang paling efektif. Manfaatkan istighotsah, wa ahlikil kafarota. Kita juga buat selawat asyghil, ternyata yang zalim pengurus NU sendiri,” kata Mustain.
Mustain juga mengkritik isu keberpihakan sosial dan konsesi pertambangan yang menurutnya perlu dibahas secara terbuka agar kepentingan masyarakat tetap menjadi perhatian organisasi.


















