Kabupaten Semarang: Bupati Ngesti Nugraha memaparkan cetak biru wisata yang terintegrasi dengan poros Borobudur, Solo, Kopeng, dan Rawapening. Mendukung ekosistem halal, Pemkab Semarang bahkan telah menyiapkan empat Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang mengantongi sertifikat halal resmi.
Kota Salatiga: Diwakili oleh Sekda Muthoin, Salatiga yang dikenal sebagai kota paling toleran di Indonesia tengah menyiapkan lahan seluas 17.000 meter persegi untuk proyek exit tol Taman Sari (Pattimura) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Salatiga juga mengunggulkan program Jarkom Mabar (Jaringan Komunitas Mahasiswa dan Anak Muda Berwirausaha).
Kabupaten Grobogan: Selaku tuan rumah, Bupati Setyo Hadi menegaskan bahwa meski memiliki banyak pekerjaan rumah dalam penataan infrastruktur, Grobogan siap mengawal penuh realisasi ekonomi syariah dan wisata berkelanjutan di wilayahnya.
Atasi Banjir dan Kerusakan Lingkungan Lewat Pendekatan Agama
Di samping mematangkan konsep wisata ramah muslim, Sekda Sumarno memberikan catatan tebal mengenai aspek keberlanjutan yang berkaitan erat dengan daya dukung lingkungan.
Ia meminta daerah hulu (seperti Kabupaten Semarang) dan daerah hilir di sepanjang jalur Pantura berkolaborasi memecahkan masalah banjir dan kerusakan alam.
“Saya meminta bantuan kepada rekan-rekan di kabupaten dan kota untuk menggandeng para tokoh agama. Kita harus memunculkan kesadaran bersama bahwa merusak lingkungan atau membuang sampah sembarangan itu adalah tindakan berdosa, karena dampaknya membuat orang lain menderita dan kebanjiran,” terang Sumarno.


















