“Harga cabai kemarin relatif tinggi dan mampu bertahan cukup lama. Jadi tanpa disuruh pun petani mulai beralih ke komoditas yang dianggap lebih menguntungkan,” katanya.
Meskipun demikian, katanya, tanaman tembakau tetap dipertahankan melalui pola tanam tumpangsari, pada bulan November petani biasanya menanam bawang putih, bawang merah, cabai, maupun komoditas hortikultura lainnya. Selanjutnya pada Maret hingga Mei lahan kembali ditanami tembakau.
“Di sejumlah lahan, pola tanam kini semakin beragam dengan kombinasi tembakau, cabai, kacang merah, dan berbagai jenis sayuran lainnya. Model ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani,” kayanya.
Ketua MTCC Universitas Muhammadiyah Magelang Retno Rusdjijati menegaskan kesejahteraan petani tembakau dan perlindungan kesehatan masyarakat bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan.
“Petani perlu menjadi bagian dari solusi pembangunan yang berkelanjutan. Penguatan kesehatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, berbasis bukti, dan dilaksanakan secara kolaboratif,” katanya.
Ia menuturkan petani tembakau saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain ketidakpastian harga hasil panen, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, keterbatasan akses pasar, serta ketergantungan pada komoditas tunggal yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan lingkungan.


















