“Harga-harga di sini udah pada naik apa belum? (Audiens: Naik!) Cabai harganya berapa? Seratus ribu? Enam puluh ribu? Di daerah timur, saya dapat laporan cabai itu harganya Rp180.000. Wes ora usah mangan lombok (sudah tidak usah makan cabai) wes ora usah. Atau apa? Bikin gerakan menanam cabai di rumah sendiri,” ujar Megawati.
Namun, ia mengingatkan bahwa dalam menyampaikan keluhan terkait kebijakan ekonomi, masyarakat dan kader partai harus memahami tata cara serta etika dalam sistem hukum tata negara, terutama karena PDI Perjuangan saat ini berada di luar pemerintahan.
“Saya tahu harga udah pada naik. Tapi saya juga tahu tata cara. Saya tidak ada dalam pemerintahan. Ya saya akan menyampaikan, tapi menyampaikannya ke siapa? Yaitu ke DPR dari Fraksi PDI Perjuangan. Gitu lho. Itu apa namanya? Itu tata cara, itu apa namanya? Etika dan moral,” ujarnya.
Soroti Nasib Petani
Selain menyoroti kenaikan harga di tingkat konsumen, Megawati juga menyampaikan keprihatinannya pada nasib petani sebagai “Soko Guru” bangsa.
Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen di Bandung, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan.
Untuk itu, ia kembali mengingatkan instruksi yang telah ia keluarkan sejak tahun 2021 kepada seluruh struktur partai untuk menggalakkan penanaman 10 jenis tanaman pangan pendamping beras guna mencegah ancaman kelaparan.
“Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Jangan sombong kalau jadi anggota PDI Perjuangan. Kalian tidak malu sama saya? Umur saya sudah mau 80 tahun, tapi saya masih bisa berteriak seperti ini. Mbok ya semangat!” selorohnya.


















