MUI: Sanad Ilmu Jangan Hancur oleh Algoritma AI

Kitab kuning
Salah seorang peserta lomba baca kitab kuning yang diselenggarakan DPW Partai Keadilan Sejahtera Provinsi Jawa Tengah. (Dok. DPW PKS Jawa Tengah

MATASEMARANG.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa sistem sanad ilmu dan hubungan guru-murid yang menjadi fondasi keislaman Nusantara tidak boleh sampai tergerus atau dihancurkan oleh algoritma kecerdasan buatan (AI).

“Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma,” ujar Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) Masduki Baidlowi di Jakarta, Rabu.

Pesan tersebut disampaikannya saat membuka sekaligus menjadi pembicara kunci dalam lokakarya “Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI” yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Kantor MUI Pusat.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Penetrasi Platform Media Baru Harus Dikendalikan dengan Regulasi

​Kiai Masduki menyoroti perkembangan AI yang kini tidak lagi sebatas membuat konten visual atau teks biasa, melainkan telah berevolusi menjadi AI agen yang mampu merencanakan, mendiskusikan, hingga mengeksekusi keputusan secara rinci.

Menurutnya, jika lembaga keagamaan seperti MUI tidak menyiapkan SDM unggul berkapasitas tinggi, peran ulama dan institusi keagamaan akan perlahan tersingkir dari kehidupan anak muda.

“Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI Avatar dan algoritma,” kata dia.

Masduki menjelaskan ketika masyarakat bertanya dan algoritma menjawab sesuai selera masing-masing, terjadi fenomena echo chamber atau ruang gema. Mereka hanya akan mengonsumsi informasi yang cocok dan mengesampingkan yang lain tanpa adanya cross-check.

“Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif,” Kiai Masduki.

Pos terkait