Menurutnya, karakter generasi muda dalam beragama kini mengalami dekonstelasi, di mana agama kerap dipahami sebagai bentuk ekspresi ego dan kenyamanan pribadi, bukan lagi pencarian hidayah secara berproses bersama guru Rabbani.
“Akibatnya, jawaban-jawaban serba instan dari platform digital berpotensi memutus mata rantai pemahaman agama yang damai (wasathiyah) dan sahih,” kata dia.
Meski demikian, Kiai Masduki menegaskan bahwa AI sejatinya adalah alat (tool) yang harus ditaklukkan oleh manusia, bukan sebaliknya.
AI harus dimanfaatkan sebagai sarana efisien untuk menyebarkan nilai keselamatan (assalam), mempermudah layanan keagamaan seperti zakat, hingga membantu proses belajar mengaji yang tetap berada di bawah verifikasi (cross-check) para ulama.
”MUI harus diisi oleh orang-orang berkapasitas tinggi agar dipercaya generasi muda,” ujar dia.
Ia mengingatkan MUI tidak boleh menjadi lembaga medioker yang hanya tahu menyalahkan orang lain. AI adalah alat efektif jika dikuasai, bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara.
Sementara itu, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menyatakan tantangan dakwah di era modern bukan lagi sebatas penyampaian materi secara konvensional, melainkan pertarungan memenangkan perhatian publik di media sosial melalui pemahaman algoritma dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ia pun mengingatkan jangan sampai konten keislaman yang menyejukkan dan sahih justru kalah bersaing dengan konten-konten instan yang merusak peradaban, seperti maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal, propaganda LGBTQ, hingga fenomena figur yang hanya mengandalkan popularitas tetapi berani mengeluarkan pandangan keagamaan tanpa dasar ilmiah. [Ant]

















