Pakar: Pemerintah Telah Beri Tekanan terhadap Ekosistem Judol

Diungkapkan pula bahwa pesan spam yang belakangan ini marak polanya sama, yakni berupa foto profil wanita, tautan ke situs judol, dan dikirim secara massal ke unggahan yang sedang ramai. Hal ini, menurut dia, bukan sekadar gangguan, melainkan pola serangan yang memanfaatkan celah moderasi platform.

“Ini strategi yang mengandalkan volume,” kata Pratama yang juga dosen dosen pascasarjana di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Dari sisi regulasi pemerintah, kata dia, sudah bergerak. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menerbitkan aturan dan mendorong platform untuk lebih ketat dalam memoderasi konten judi online.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  Prabowo Kumpulkan 1.200 Profesor, Dekan, dan Rektor di Istana

Eksekusi Masih Timpang

Namun, dia menyayangkan eksekusi di lapangan masih timpang. Platform memiliki algoritma dan infrastruktur, tetapi sejauh mana mereka benar-benar menindak akun spam ini secara konsisten masih menjadi pertanyaan.

Ke depan, kerja sama antara Komdigi dan platform media sosial perlu makin diperkuat, terutama dalam penerapan teknologi kecerdasan buatan untuk mendeteksi komentar spam, akun bot, serta pola aktivitas yang tidak wajar secara otomatis.

“Regulasi sudah ada, Komdigi sudah mendorong. Akan tetapi, kalau platformnya tidak menjalankan dengan serius, mau bagaimana lagi. Mereka yang memegang kendali penuh atas sistem moderasi mereka,” kata Pratama.

BACA JUGA  NU dan Muhammadiyah: Pelapor Pandji Bukan Bagian Organisasi

Platform sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengenali ribuan komentar identik yang dikirim dalam waktu singkat, mendeteksi akun yang dibuat secara massal, hingga mengidentifikasi jaringan akun yang saling berkoordinasi. Dengan kolaborasi yang lebih erat, penghapusan komentar maupun penonaktifan akun dapat dilakukan lebih cepat sebelum menjangkau lebih banyak pengguna.

Pos terkait