Tragedi Irene Sokoy, Ibu Hamil yang Meninggal Bersama Bayinya Usai Ditolak 4 RS

ilustrasi ibu hamil (pixabay/ OsloMetX)
ilustrasi ibu hamil (pixabay/ OsloMetX)

MATASEMARANG.COM – Kementerian Kesehatan RI mengungkap empat faktor utama yang menyebabkan kematian tragis Irene Sokoy, ibu hamil asal Kampung Hobong, Sentani, Jayapura, bersama bayi dalam kandungannya.

Irene meninggal dunia pada Senin 17 November 2025 sekitar pukul 05.00 WIT setelah diduga ditolak oleh empat rumah sakit di Kabupaten dan Kota Jayapura.

Kronologi Kejadian

Irene sempat melakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) dan diketahui bayinya berukuran besar.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA  MA Tolak Kasasi Dosen FK Undip dalam Kasus Pemerasan di PPDS

Pada 16 November, ia datang ke RSUD Yowari dengan kondisi sakit. Namun, tidak ada dokter obgyn karena sedang seminar. Irene ditangani bidan selama lima jam, lalu disarankan operasi caesar.

Karena tidak tersedia dokter, Irene dirujuk ke RS Dian Harapan, namun rumah sakit tersebut tidak memiliki dokter anestesi dan NICU penuh.

Ia kemudian dibawa ke RSUD Abepura, yang tidak bisa melakukan operasi karena renovasi ruang operasi.

Di RS Bhayangkara, tersedia dokter namun tidak ada ruang rawat inap kelas tiga. Irene sempat diarahkan ke RS swasta, namun terkendala biaya Rp 3–4 juta.

BACA JUGA  Volume Kendaraan Meningkat, "One Way" Lokal Diberlakukan di Jalan Tol Semarang Seksi ABC

Dalam perjalanan, ia mengalami kejang dan kembali ke RS Bhayangkara, namun nyawanya tidak tertolong.

Hasil Investigasi

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebutkan hasil investigasi menunjukkan empat isu krusial:

  1. Kelangkaan dokter spesialis, terutama obgyn dan anestesi
  2. Pemeliharaan sarana dan prasarana yang tidak optimal
  3. Prosedur standar yang tidak dijalankan
  4. Sistem rujukan yang tidak efektif

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kekurangan dokter spesialis masih menjadi tantangan besar di luar Jawa.

BACA JUGA  Yusril: Wapres Gibran Tak Mungkin Berkantor di Papua

Untuk itu, Kemenkes membangun sistem pendidikan berbasis rumah sakit dan mendorong putra-putri daerah menjadi tenaga medis spesialis.

Pos terkait