Turnamen tersebut juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi masyarakat dalam mengembangkan olahraga padel.
Penyelenggaraan Piala Wali Kota Semarang 2026 tidak menggunakan anggaran Pemerintah Kota Semarang maupun anggaran pribadi wali kota. Pembiayaan kegiatan berasal dari sponsor, iuran, dan kontribusi peserta.
“Tidak serupiah pun saya keluar uang. Padahal ini turnamennya piala wali kota. Terus yang kedua Pemerintah Kota Semarang juga enggak keluar uang. Jadi duitnya semuanya acara ini dari mana? Ini dari para sahabat, sponsor dan iuran banyak orang dan tentu yang paling besar adalah dari peserta,” tegas Agustina.
Agustina mengapresiasi sponsor, panitia, peserta, komunitas, dan masyarakat yang ikut mengambil bagian dalam penyelenggaraan turnamen. Menurutnya, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan olahraga dapat tumbuh dari partisipasi banyak pihak.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah bersama keluarga dan pendamping juga membawa aktivitas ekonomi bagi Kota Semarang. Pergerakan mereka membuka peluang bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, serta usaha masyarakat. Agustina melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari potensi sport tourism yang dapat terus dikembangkan.
“Semarang ini punya peluang besar. Ketika orang datang untuk berolahraga, mereka juga akan tinggal, makan, menggunakan transportasi, dan mengenal berbagai hal yang ada di Kota Semarang,” ujarnya.
Agustina berharap kompetisi padel dapat terus digelar di Kota Semarang sehingga semakin banyak masyarakat mengenal dan menekuni olahraga tersebut.

















