Penyelenggaraan MTQ XXXI di Kota Semarang juga mencatatkan sejarah baru cabang ekshibisi khusus bagi penyandang disabilitas (tuna rungu wicara) serta pembentukan Majelis Kode Etik Hakim. Kehadiran inovasi ini makin memperkuat posisi MTQ XXXI sebagai panggung syiar Islam yang ramah, berkeadilan, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebanyak 16 peserta terpilih asal Kota Semarang merupakan hasil seleksi ketat dari total 1,7 juta penduduk. Komposisi tersebut turut melibatkan dua peserta penyandang disabilitas tuna rungu wicara yang akan tampil di tingkat nasional. Dukungan moril dan materiil disalurkan melalui kolaborasi lintas Lembaga, termasuk PDAM, Bank Jateng, Baznas, serta PTQ guna memperkuat mental bertanding para peserta.
Mengenai target pencapaian, Wali Kota menekankan bahwa ia tidak memberikan beban target juara kepada para Duta Qur’an Kota Semarang tersebut. Bagi Agustina, proses pendewasaan mental dan pengalaman spiritual jauh lebih berharga daripada sekadar medali.
“Apakah saya memberi target harus juara? Tidak. Sebagai seorang ibu dan guru, saya melihat hal paling Utama dalam kompetisi adalah pengalaman batin,” tegasnya.
Agustina meminta para peserta tampil percaya diri dengan keunggulan masing-masing tanpa merasa terbebani. Penguatan mental tersebut diharapkan mampu membuat para peserta tampil secara maksimal dan lepas saat berkompetisi.
“Kita harus yakin dan percaya diri bahwa saya memiliki uniqueness, saya memiliki diferensiasi. Saya bisa tampil jauh lebih baik. Sikap mental itulah yang akan menguatkan kalian untuk bertanding dengan perasaan yang lebih bebas,” tutur Agustina.


















