2. Sriratu Pemuda

Sebelum gempuran mal megah bermodal raksasa nasional masuk ke Semarang, Plaza Sriratu Pemuda adalah kasta tertinggi tempat nongkrong anak muda Semarang generasi 90-an.
Sriratu adalah pionir department store lokal dengan konsep yang sangat modern pada masanya.
Siapa yang ingat lantai atasnya yang dipenuhi wahana permainan anak, wangi khas area supermarketnya, atau keseruan berburu diskon baju di sini? Sriratu adalah definisi “kemewahan” warga Semarang sebelum abad ke-21.
Kalah bersaing dengan gempuran zaman, Sriratu Pemuda akhirnya resmi menutup riwayatnya sebagai department store.
Namun, alih-alih hancur total, lokasinya kini telah bertransformasi dan terlahir kembali menjadi Queen City Mall dengan konsep yang jauh lebih modern demi memikat generasi gen-Z.
3. Trans Studio Mini Banyumanik

Saat pertama kali dibuka, Transmart Banyumanik digadang-gadang menjadi pusat hiburan terpadu terbesar bagi masyarakat Semarang bagian atas (Banyumanik, Tembalang, dan sekitarnya).
Daya tarik utama mall ini adalah keberadaan Trans Studio Mini. Warga Semarang tidak perlu jauh-jauh ke Bandung atau Makassar untuk menikmati sensasi naik roller coaster di dalam ruangan yang lintasannya bahkan mencuat keluar gedung.
Di awal pembukaannya, jalanan di depan mall ini selalu macet parah karena antusiasme warga.
Sayangnya, euforia itu tidak bertahan lama. Setelah pandemi dan hantaman badai ritel, wahana bermain Trans Studio Mini di sini akhirnya resmi ditutup.
Kehilangan magnet utamanya membuat lantai-lantai atas mall ini sepi senyap, menyisakan area swalayan di lantai bawah yang juga harus berjuang keras menggaet pengunjung.

















