Meski perkembangan otak berlangsung paling pesat pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), proses mielinisasi korteks prefrontal – yang berperan dalam atensi, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls – masih terus berlangsung hingga masa remaja.
“Oleh karena itu asupan AA dan DHA yang memadai dapat mendukung fungsi eksekutif, konsentrasi, regulasi perilaku dan emosi, serta plastisitas sinaptik yang berperan dalam proses belajar dan memori,” kata Shyrien.
Menurut data yang dihimpun oleh berbagai lembaga kesehatan anak, defisiensi DHA pada anak usia sekolah dapat memengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Ironisnya, kondisi ini sering kali tidak menampakkan gejala yang jelas sehingga orang tua kerap tidak menyadarinya.
“Dalam memilih minuman anak, orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai, tetapi juga kandungan nutrisinya. Rasa memang memengaruhi penerimaan anak, sehingga pilihan minuman bernutrisi, termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format yang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan,” katanya.
Menurutnya, edukasi kepada orang tua juga menjadi kunci. Pemahaman ini perlu disebarluaskan agar orang tua dapat mengambil langkah proaktif untuk memastikan kecukupan gizi otak anak mereka.
“Masalah kekurangan DHA pada anak Indonesia bukan sekadar isu gizi individual. Ini adalah isu generasi. Anak-anak yang tumbuh dengan kecukupan DHA yang optimal memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang menjadi generasi yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing tinggi,” katanya.


















