“Jangankan telat ganti oli, lampu sein mati saja unit langsung kami off-kan dan masuk bengkel internal untuk diperbaiki sampai benar-benar andal kembali,” tuturnya.
Di sisi lain, respons positif ditunjukkan oleh Wali Kota Semarang dan TAPD atas tingginya volume tugas Damkar. Pada tahun ini, Damkar Kota Semarang mendapatkan tambahan tiga unit armada baru.
Satu Unit Armada Rescue: Khusus menangani kasus non-kebakaran (seperti evakuasi ular dan penanganan gangguan hewan/lingkungan) yang trennya melonjak tajam hingga menembus 1.700 aksi per Juli ini.
1 Unit Mobil Pemadam Portable (800 Liter): Guna mempermudah manuver di gang sempit berkaca pada kasus kebakaran di Semarang Timur yang mengharuskan petugas mengolor selang hingga 200 meter.
1 Unit Mobil Sosialisasi: Untuk mendukung tim bidang pemberdayaan menjangkau edukasi warga lebih luas.
Menanggapi kebutuhan vital Bronto Skylift atau mobil tangga pemadam untuk gedung pencakar langit, mengingat gedung tertinggi di Semarang sudah mencapai lebih dari 100 meter, Ade mengaku pihaknya sudah mengajukan kajian Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK) sejak dua tahun lalu.
”Kota sekelas Madiun dengan APBD Rp1,1 triliun saja sudah beli unit skylift, tentu harapan kami Kota Semarang yang investasinya terus tumbuh dan banyak gedung tinggi juga bisa segera memilikinya. Namun, kami paham TAPD dan Ibu Walikota punya skala prioritas anggaran. Selain itu, pengadaan unit skylift yang besar juga membutuhkan kajian terperinci terkait kesiapan fasilitas serta luasan manuver kantor kami kelak,” tandasnya.


















